Wanita Qur-ani di Sudut Bandara Kualanamu, Medan

Buah Pena dari:
Roby Efendi

Kisah ini menceritakan perjalanan seorang pemuda kelahiran Penampaan Uken, Oktober 1989 dengan seorang perempuan yang bersal dari Kutelintang. Kisah ini bermula saat perjalanan pemuda itu mengantar adiknya yang akan mengabdi sebagai Ustad di salah satu pondok moderen ternama di negeri ini, Gontor Darussalam.

Saat itu.. subuh 9 Juli 2016, setibanya Ahmad bersama adiknya Mahdi, di Bandara Kualanamu. Perjalanan Ahmad saat itu hanya sekedar mengantar Mahdi yang harus menjalani tugas mengabdi sebagai alumnus pesantren yang termashyhur di negeri ini. Pesantren itu dikenal dengan Pesantren Gontor, Darussalam. sampai di bandara Kualanamu Medan.

Ditengah sibuknya aktivitas lautan manusia di bandara saat itu., dan sambil menunggu jadwal keberangkatan yang tidak lama lagi akan tiba. Tak sengaja pandangan Ahmad mengarah pada wanita yang sedang asyik membaca Al-Quran. Wanita yang mengenakan hijab berwarna merah muda menjulur disekujur tubuhnya, menggunakan gross bunga putih sebagai penghias hijabnya, bola matanya yang hitam pekat, alis yang tebal, pipi montok namun tidak gemuk. Tampilan yang sederhana namun anggun itu membuat Ahmad penasaran pada wanita ‘aneh’ itu, namun takjub. Mengapa tidak, saat kebanyakan manusia sibuk dengan aktivitas yang lain, wanita itu sibuk dengan bacaan Al-Qurannya.

Seketika timbul hasrat dalam diri Ahmad untuk ingin mengenal perempuan itu. Tapi bagaimana caranya agar pembicaraan dapat dimulai Ahmad? Apa yang harus dia lakukan untuk mengalihkan perhatian wanita itu padanya?

Pertanyaan-demi pertanyaan mulai menggerogoti pikiran Ahmad mencari cara untuk memulai pembicaraan. Langkah awal yang dilakukan Ahmad adalah mendekati perempuan itu yang ditemani oleh adiknya seorang perempuan berhijab merah. Karena Mahdi yang harus ke kamar mandi, maka dia menitipkan koper bawaannya pada Ahmad sembari berkata “Aku ku kamar mandi sejeb kah.., amat an tas ni” sambil pergi.

Mendengar pembicaraan kami, entah mengapa perempuan yang berhijab merah itupun langsung menoleh ke arah Ahmad sambil tersenyum, maka Ahmad pun membalas dengan senyum pula yang membuatnya semakin berani mendekatkan diri sembari berbasa-basi.

Tanpa membuang waktu lama, langsung saja Ahmad memulai pembicaraan.
“Assalamu’alaikum” ucapnya sembari mendekat dan duduk di kursi sudut bandara.
“Walaikum salam” dijwabnya sambil tersenyum santun.
“Keberangkatan kemana..?”  perlahan sambil mendekat duduk di dekatnya.
“Ke Gayo bang…” dijawabnya dengan singkat sambil tersenyum lagi.
Mendengar jawabannya ke Gayo tersontak membuat Ahmad kaget sekaligus penasaran.
“Gayo…? Aceh Ya” kembali Ahmad bertanya dengan nada penasaran.

Belum sempat pertanyaan Ahmad terjawab, kedua perempuan itu dipanggil seorang lelaki dari kejauhan yang ternyata adalah ayahnya.

“Etek…, kite berangkatmi we,  mai nemah ni aka mua”  teriak lelaki yang lebih kurang berusia 50an itu.
Seketika perempuan yang asyik dengan bacaan Al-Quran itu mengakhiri bacaanya dengan mengucap “Shadaqallahul ‘Adzhiim” kemudian mencium Al-Qurannya dan memasukkannya kedalam tas kecil. Seketika itu pula kedua perempuan itu bergegas meninggalkan Ahmad, sembari berucap:

“Bang.., kami duluan berangkat..?” ucap perempuan yang berhijab merah itu sambil  berjalan.
Aku hanya dapat mengangukkan kepala. Kemudian  perempuan yang yang berhijab merah muda tadi juga menoleh kearahku sembari tersenyum manis. Langkah demi  langkah perempuan itu terus saja kuperhatikan yang semakin lama semakin menjauh. “Bierpeh jarak bersiding bur, ike ara umur mudemu kite”kata-kata indah itu seketika terungkap dalam hati Ahmad.

Tak lama memandangi kedua perempuan itu, Mahdi pun telah usai dari kamar mandi sembari bertanya:
“ Sahan engoni ko bang?”
“Seberu oyane, cerakne male ku Gayo, ku engon rantol dih jilbab e.  I he die we I Gayo?”
Sambil  berjalan Ahmad dan Mahdi membicarakan mengenai wanita tadi.
Tiba saatnya Mahdi harus berangkat ke ruang tunggu, itu artinya mereka harus berpisah. Sambil bersalaman serta berpelukan Ahmad berpesan  “Baik-baik di  negeri orang, jangan membuat masalah dan lakukan yang terbaik untuk keluarga kita”
“Iya bang” jawab Mahdi.
“Kalau sudah sampai ketempat tujuan, beri kabar” kembali Ahmad mengingatkan.
“Iya bang”.
Kemudian Mahdi yang dipandangi Ahmad semakin lama semakin menjauh.
Ahmad pun segera bergegas pergi.

Penulis     : Roby Efendi
Editor        :

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

“Sakit Hati Ternyata Indah”

BLANGKEJEREN [Insetgalus] – Sebuah novel Robi Efendi ini sangat menarik untuk dibaca. Diawali dengan mendung ...