Wanita Qur-ani di Sudut Bandara Kualanamu, Medan (Bag.3)

Buah Pena dari:
Roby Efendi

Yang Baik Hanya Untuk Yang Baik
Sejak acara saman tersebut, hubungan mereka terjalin baik, bahkan sangat baik. Ahmad sebagai pemuda yang berwawasan dan berahklaq, tak mau lagi berlama-lama menjalin hubungan tanpa status, dia ingin segera melamar bahkan menikahi Ijah.. Maka dalam sebuah kesempatan via sms Ahmad menuturkan niat baiknya untuk menjadi imam wanita itu.
“Ijah.., hubungan kita sudah berjalan sekian bulan,  hubungan kita sudah terjalin baik. Aku sudah mulai tidak betah dengan keadaan seperti ini terus-terusan. Tapi aku masih ragu, apakah pemuda sepertiku pantas untuk menyunting bunga sepertimu?
Entahlah.., yang jelas aku hanya ingin menjadikan engkau pelabuhan terakhirku, tempat ku mencurahkan segala resah gundah, karena denganmu aku merasa nyaman.
Ijah.., tolong jawab maksud hatiku. Bersediakah engkau menjadi hulu sungai di hatiku? Jika aku tandus, dengan aliran sungaimu aku menjadi subur. Bersediakah engkau menjadi lampu penerangku menuju jalan yang dirihoi Tuhan?”

Setelah pesan itu diketiknya dengan memilih bahasa seindah dan sehalus mungkin,  tak lupa Ahmad membacakan mantra sakti yang diajarkan kakeknya dahulu. “User-user batang selasih, tertutup ate siguser muke ate si kasih (wahai polanah), berkat kalimat lailahaillah” Ahmad masih ingat dengan pesan Alm. kakeknya “jika engkau ingin di kasihi dan disayangi orang lain, bacakan mantra yang kakek ajarkan dengan yakin”. Meski dengan jempol yang gemetar menekan tombol untuk mengirim pesan dari ponselnya.
Dag…, dig…., dug…!
Dag…, dig…., dug…!!!
Suara detak jantung Ahmad yang semakin menguat menunggu balasan pesan dari Ijah. Cukup lama Ahmad menunggu balasan itu tak kunjung datang. Ba’da shalat Isya, barulah pesan Ahmad yang sedari siang tadi mendapat balasan. Balasan pesan itu adalah:
“Gak usah banyak pantun bang.., datang aja kerumah. Bicarakan langsung dengan ayah dan bunda. Insya Allah semua akan baik-baik aja” jawab Ijah dengan singkat dan tanpa kata-kata indah seperti yang dikirimkan Ahmad., mungkin saja Ijah tak sepandai Ahmad merangkai kata.
Semudah itu Ijah menjawab dan membalas sms Ahmad. Apakah karena keampuhan mantra sakti yang dibacakannya, ataukah itu yang dinamakan kemudahan?. Entahlah, yang jelas Ijah telah bersedia untuk dilamar Ahmad.
Melihat balasan demikian, malam esoknya langsung saja Ahmad membicarakan niat hatinya kepada kakeknya, awan  Jum dan We  Hasiah. Karena di tanah Gayo, untuk menceritakan perihal asmara kepada kedua orang tua adalah  hal yang tabu, bahkan pantang. Maka untuk menyampaikan kabar itu kepada orang tua Ahmad haruslah melalui pihak ketiga, bukan secara langsung antara anak dengan orang tua. Hanya kepada awan Jum dan we Hasiah-lah tempat pengaduan terbaik menurut Ahmad menyampaikan bahwa dia ingin melamar gadis asal Kutelintang itu.
Awan Jum dan We Hasiah pun langsung menyampaikan berita itu kepada orang tua Ahmad. Mereka langsung melamar gadis itu, dan lamaran pun diterima. Orang tua mana yang sanggup menolak calon kile  seperti Ahmad?  Diam-diam, sejak perkenalan di acara saman tersebut ibu Ijah telah mengetahui bahwa putrinya memiliki ketertarikan pada Ahmad, maka sebagai orang tua, ibu Ijah langsung menyelidiki siapa Ahmad? Setelah diselidiki agama, keturunan, harta, dan fisiknya, orang tua Ijah menyetujui hubungan mereka. Oleh karena itu lamaran pun berjalan lancar dan tanpa mahar yang tinggi.
***
Pernikahan itupun tak terelekkan lagi. Kedua  pasangan yang saling mencintai karena Tuhannya itu telah menjalankan sunnah Rasulnya. Mereka telah duduk bersanding di pelaminan. Sungguh serasi dan nyaman dipandang mata, ditambah lagi mereka mengenakan pakaian Kerawang Gayo yang semakin menarik perhatian tamu undangan.
Bagaimana dengan Mahdi?
Tak ketinggalan, mendengar berita kakaknya akan menikah, dengan segala upaya Mahdi permisi dari pondok tempatnya yang sedang mengabdi hanya untuk menyaksikan langsung kebahagiaan kakaknya.  Mahdi pun yang hobby memotret, mangabadikan momen tersebut dengan kamera barunya yang baru saja dia beli saat di Batam.
Berakhir sudah pengembaraan hati Ahmad yang mencari cinta untuk menggapai ridho Ilahi. Kini, Ahmad dan Khadijah telah menjadi pengantin baru. Dunia yang dahulu sunyi, telah berubah menjadi ramai, hari-hari Ahmad yang dahulunya gersang, telah subur dengan hadirnya sosok  wanita Qur’ani itu.
Selamat menempuh hidup baru teman…!

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

“Sakit Hati Ternyata Indah”

BLANGKEJEREN [Insetgalus] – Sebuah novel Robi Efendi ini sangat menarik untuk dibaca. Diawali dengan mendung ...