Pemuda dan Mahasiswa Malang Turun ke Jalan Tolak Anggaran Tari Saman

MALANG [Insetgalus] – Pemuda dan mahasiswa Gayo Lues Malang turun ke jalan menolak anggaran Tari Saman 10.001 yang digunakan oleh pemerintah. Turunnya pemuada dan mahasiswa ini merupakan peringatan keras kepada Pemerintah Gayo Lues untuk membatalkan acara tersebut.

Hal itu disebabkan karena masih adanya kebutuhan rakyat Gayo Lues terhadap pengentasan kemiskinan. Selain itu, juga masalah pendidikan, kesehatan yang terbengkalai. Kualitas pendidikan misalnya, masih di urutan terendah di Provinsi Aceh. Hal itu dibuktikan dengan tingkat kelulusan SMK se-Aceh di Gayo Lues masih paling rendah. Begitu juga dengan masalah kesehatan di Gayo Lues, masih dalam dilema. Sehingga keterbatasan dan kehabisan stok obat-obatan masih saja terjadi. Sementara yang paling dibutuhkan oleh suatu daerah selain ekonomi adalah, kesehatan dan pendidikan. Bukan hanya itu, tetapi ketersediaan air masih menjadi belenggu di RSUD Gayo Lues.

Melihat fenomena ini, maka hari ini, Selasa (18/7/2017) Mahasiswa dan Pemuda Gayo Lues seluruh Indonesia melakukan aksi damai untuk menuntut Pemerintah Kabupaten Gayo Lues membatalakan kegiatan Tari Saman 10.001 yang menggunakan dana dari APBN, APBK, dan ADKK.

“Melihat kondisi ekonomi dan kemiskinan yang memperihatinkan ini, tidak seharusnya Pemkab Gayo Lues mengadakan Tari Saman 10.001 menggunakan anggaran dari APBN, APBK, dan ADKK,” jelas Korlap aksi Saniman saat melakukan aksinya.

Selain itu, lanjutnya, nilai yang dikeluarkan untuk Tari Saman ini mencapai Rp 10.8 Miliar. Tentu dalam melihat sistem penganggaran pemerintah adalah hal yang salah karena tidak melihat dari sisi urgensi atau prioritas. Namun pun demikian, pemerintah tetap akan bersikeras untuk mengadakan Tari Saman ini.

Meskipun anggaran yang lumayan besar ini dikeluarkan untuk membudayakan Tari Saman yang sudah diakui oleh UNESCO sebagai budaya tak benda. Tapi dalam praktiknya tidak melibatkan DPRK Gayo Lues untuk persetujuan anggaran.

“Unik, anggaran ini hanya dikeluarkan sepihak oleh Pemerintah Kabupaten Gayo Lues. Tidak melibatkan DPRK. Hanya Pemkab yang terlibat dalam acara yang menghabisakan uang rakyat ini,” sambungnya.

Sementara itu, Ferdi Herdinata, mengaku akan tetap menolak Tari Saman 10.001 jika anggarannya tetap dari APBN, APBK, dan ADKK. Meski demikian, Ferdi tidak pernah mempermasalahkan soal Tari Samannya. Akan tetapi, Ferdi mempermasalahkan penggunaan anggaran yang nilainya Rp 10.8 Miliar itu.

“Kami tidak sepakat jika anggaran Tari Saman 10.001 ini dari APBN, APBK, dan ADKK. Bayangkan saja, masak iya anggaran untuk pemerintah desa dipangkas untuk program seperti ini. Tentu tidak elok, karena tidak ada UU dan PP yang mengaturnya. Tentu akan mengorbankan para kepala desa di kemudian hari,” ujar Ferdi saat ditemui di lokasi aksi.

Tari Saman 10.001 itu dilakukan dengan pedoman Kepetusan Bupati Gayo Lues Nomor 412.61/389/2017 tentang Pemberian Alokasi Dana Kampung Khusus Untuk Biaya Pagelaran Tari Saman Massal 10.001. Dalam keputusan tersebut tercantum dana yang dikeluarkan untuk kegiatan senilai Rp 8.700.000.000,- yang langsung didistribusikan ke desa-desa melalui rekening desa.

Tak hanya itu, salah satu mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, Ridwan, mengaku tidak pernah setuju dengan anggaran Tari Saman yang dikeluarkan oleh Bupati Gayo Lues. Ridwan mengatakan akan tetap menolak kebijakan pemerintah daerah yang merusa tatanan penganggaran pemerintah itu.

“Kami akan tetap menolak penggunaan anggaran Tari Saman 10.001 ini. Namun jika pemerintah akan tetap melaksanakan, maka disilahkan dengan catatan mencari sponsorship. Sehingga dana yang digunakan bukan uang rakyat yang kegunaannya tidak prioritas,” kata Ridwan diselal-sela aksi damai di Jalan Veteran Kota Malang, Selasa (18/7).

“Rincian dana Tari Saman 10.001 adalah, Rp 600 juta dari APBN, Rp 1,5 Miliar dari APBK, dan Rp 8,7 Miliar dari ADKK,” sambungnya.

Ridwan mempertanyakan, kenapa dalam kondisi sulit seperti ini masih saja Pemerintah Gayo Lues membuat program yang tidak menjadi prioritas.

Dalam aksi ini, GERAM menggugat Pemerintah Gayo Lues  dengan TUGU RAKYAT (Tujuh Gugatan Rakyat) Gayo Lues, yakni: 1). Mendesak Pemerintah Kabupaten Gayo Lues untuk mengagalkan Tari Saman 10.001 menggunakan dana APBN, APBK, dan ADKK. 2). Mendesak DPRK Gayo Lues untuk menyikapi penolakan masyarakat Gayo Lues terhadap Tari Saman, agar dapat mempertimbangkan bersama Bupati Gayo Lues untuk menunda atau mengagalkan acara tersbut. 3). Mendesak pemerintah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Gayo Lues terhadap kesehatan dan pendidikan. 4). Mendesak pemerintah untuk melimpahkan dana Rp 10.8 Miliar untuk program penuntasan kemiskinan. 5). Mendesak pemerintah untuk menjalankan keterbukaan Informasi Publik dengan mengaktifkan semua akses website Pemerintah Kabupaten Gayo Lues. 6). Mendesak semua pengulu kampung untuk menjalankan mandat Kemendesa RI untuk tranfaransi anggaran desa dengan membuat papan infromasi atau baliho. 7). Menuntut BPK, Kejaksaan, dan KPK untuk manguadit Anggaran Dana Desa (ADD) dan APBK Gayo Lues.

Liputan : Ramli Prayoga
Editor   :

About Jasvira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Seberu Sebujang Penampaan Uken Semprotkan Disinfektan

BLANGKEJEREN [INSETGALUS] – Merebaknya pandemi virus corona (Covid-19) telah membuat masyarakat resah dan khawatir. Hal ...