Peluang Dan Masa Depan Petani Budi Daya Menanam Kopi

“Petani adalah pahlawan tanpa bintang jasa”
( Prof. Dr. Kunto Widjoyo)

Kekalahan manusia petani dimanapun adalah ketika petani tidak punya lahan. Status lahan yang dikerjakan hanya sebagai: hak pakai, hak pinjam dan hak mengolahnya. Derita ini terbukti dalam penelitian Widjoyo, pada era tahun 1970-an, di Surabaya—perkebunan Tebu Ireng. Land reform adalah satu-satu cara merebut kembali hak masyarakat tani untuk memiliki hak lahan pertanian. Persoalan ini dimulai dari perebutan tanah di masa penjajahan kolonial Belanda, setelah Indonesia Merdeka 1945. Status tanah dikuasai pemerintah melalui program PIR-Perkebunan Inti Rakyat.

Gambaran di atas, menunjukkan bahwa kondisi lahan pertanian di Gayo Lues sangat jauh dari persoalan Land reform. Hamparan lahan perkebunan yang disekeliling kota kabupaten ini dan yang ada di tiap kecamatan menjadi pemandangan eksotisme yang tidak terdapat di daerah lain di Aceh. Bahkan sebagian orang berpendapat bahwa antara luas lahan perkebunan dan jumlah penduduknya jauh melampaui luas perkebunan.

Tulisan ini menggambarkan betapa pentingnya suatu jenis menanam kopi yang sangat prospektif. Tahapannya, dimulai dari verifikasi hak pemilikan tanah dengan harapan agar titik koordinat antara hutan lindung dan hutan produktif menjadi hak preogratif masyarakat menentukan dan mengelola jenis tanamannya.

Inilah babak baru, peradaban masyarakat tani dan lingkungannya. Langkah yang baik dari awal menentukan masa depan petani yang lebih cerah, baik dari segi ekonomi keluarga maupun daerah. Sebab itu, pertumbuhan ekonomi daerah berbasis dari pertanian dan perkebunan serta peternakan. Singkatnya, kabupaten ini maju mencerminkan basis ekonomi masyarakatnya sejahtra nan makmur.

Dari uraian di atas, penulis mengajak melihat bahwa betapa pentingnya kekuatan ekonomi suatu daerah. Persoalannya, bagaimana tata kelola sumber daya alamnya dikelola dengan semaksimal mungkin. Berikut ini, akan dirinci beberapa pokok persoalan yang akan dihadapi.

Pertama, karakter masyarakat tani di Gayo Lues adalah bersawah dan berkebun. Indentifikasi ini terlihat pada hamparan sawah yang terdapat di tiap desa dalam kecamatan. Sementara, untuk lokasi berkebun terdapat di sekitar bukit dan lembah hutan.

Adapun persoalan utama yang sering dihadapi adalah jarak lokasi kebun dan tempat tinggal masyarakat sangat berjauhan. Inilah problema yang sering dihadapi yakni kondisi jalan menuju lokasi kebun belum layak dilaju dengan sepeda motor.

Kedua, belum adanya suatu komunitas petani kopi yang konsisten dalam perkebunan kopi. Kalaupun ada, hanya sebagian yakni kecamatan Blangkejeren dan Dabun Gelang. Identifikasi inipun secara individu bukan kolektif. Kenyataan inilah kecenderungan petani untuk berpindah dari suatu lokasi ke lokasi lain, dengan cara tanaman Tembakau, Nilam dan Cabe Hibrida. Adapun jenis tanam Sere Wangi, dipilih lahannya oleh petani adalah konstur tanah yang padat atau berada disekitar naungan pohon pinus. Inilah kecerdasan petani memilih lahan yang tidak mendukung pada jenis tanaman yang membutuhkan tingkat humus yang memadai—jenis tanaman yang bukan berserabut.

Sementara itu, lokasi perkebunan kopi di kecamatan Pantan Cuaca belum menunjukkan tingkat keberhasilan yang signifikan. Ukurannya, belum adanya bukti yang akurat yang menunjukkan bahwa tingkat ekonomi masyarakat di daerah tersebut pada ranking pertama diantara kecamatan lain. Namun, kecamatan ini sudah cukup menopang kebutuhan ekonomi keluarga yang senantiasa tercukupi.

Ketiga, belum adanya lembaga yang mengatur dan memasarkan hasil panen kopi dengan harga standar. Artinya, petani kopi selama ini lebih sering menjual pada agen konvensional. Singkatnya, ada barang ada harga. Namun begitu, sepanjang tahun kebutuhan keluarga petani kopi terus melonjak, sementara harga kopi cenderung menurun. Dampaknya, masyarakat tani tidak ingin berspekulasi terhadap komoditi kopi yang harganya tidak menentu.

Dari uraian di atas, menunjukkan bahwa belum adanya terobosan baru dalam mengelola dan membenahi perkebunan kopi. Sehingga, peluang memaksimalkan dan memanfaatkan kesempatan untuk menata masyarakat kopi terkesan berjalan stagnan—berjalan mundur. Sebab itu, tanda-tanda kegairahan masyarakat tani kopi sudah mulai melirik peluang menanam kopi dengan adanya berbagai pameran kopi Gayo Lues sebagai kualitas Internasional. Hal ini terbukti yang dilakukan oleh para stakeholder daerah yakni promosi kopi Gayo Lues di Tangerang dan beberapa tempat di Jakarta pada beberapa bulan yang lalu.

Sesuguhnya, jumlah penikmat kopi dari waktu ke waktu terus meningkat sebaliknya jumlah penghasil biji kopi semakin lama semakin berkurang. Hal ini identik dari areal perkebunan yang tidak bertambah. Singkatnya, harga komoditi di tingkat Nasional dan Internasional cenderung naik. Asumsinya, tiga tahun ke depan harga biji kopi bisa mencapai seratus ribu perkilonya.

Kesimpulannya, peluang dan masa depan petani budi daya menanam kopi hanya terletak pada konsistensi petani kopi untuk terus mengkonsolidasi kelompoknya dalam menentukan areal dan cara perawatannya dengan standar pengolahan lahannya. Sehingga, menghasilkan kopi yang bermutu tinggi dan berciri khas cita rasa. Singkatnya, bagi petani kopi semakin bagus perawatannya maka semakin maksimal hasilnya. Dengan tidak mengabaikan waktu untuk segera ditanam. Karena itu, umur jarak tanam kopi hanya terlihat keberhasilannya, dalam rentang waktu dua sampai tiga tahun masa panennya.

Untuk lebih sinergi dalam keberhasilannya, adalah terbentuknya komunitas ataupun organisasi yang mewadahi segala persoalan mengenai tata cara mengolah tanah, dan merawat tanaman kopi agar kendala dan tantangan dapat diatasi bersama.

Pada akhirnya, tingkat kesejahtraan petani kopi hanya melalui tingkat harga jual yang memadai dan terus stabil dari harga pasaran Nasional maupun Internasional. Hal ini untuk mengatasi fluktuasi harga biji kopi. Adapun gejolak kenaikan BBM tidak mempengaruhi turunnya harga jual biji kopi.
Inilah yang dimaksud bahwa kesejahtraan petani kopi yang terdapat pada harga jual yang mengikuti harga komoditi ekspor. Singkatnya, petani kopi makmur nan sejahtra. Petani sejahtra adalah cerminan daerah Gayo Lues, Islami dan Mandiri. “Bravo Gayo Lues”.

HELMI MAHADI, S.I.P., M.A
Alumi Political Science Department.
World Class Research University Gadjah Mada
ASN Setdakab Gayo Lues
ND. Staf Ahli Khusus Bupati Gayo Lues

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Desa Tingkem Desa Perjuangan

“Kami adalah pelayan rakyat bagi semua rakyat”.  Demikian diucapkan Bupati saat menyampaikan kata sambutan ucapan ...