Pajak Terpadu Terancam Kehilangan Roh

 Anugerah alam yang mempesona nan indah selalu menggoda orang luar untuk datang ke Galus. Apa jadinya, tamu yang datang menanyakan dimana orang ingin membeli tikar pandan, kue Gutel, gula Aren, den ke noang (Rusa buruan di hutan) dan ikan Jejurung (ikan tawar yang hidup dari aliran sungai lembah hutan lindung Lueser)?

Begitu juga, si Merah yang selalu menggoda rasa pedasnya; Cabe hibrida. Naik-turunnya harga komoditi ini adalah entitas dinamika ekonomi warga masyarakat Galus.

Inilah keunikan di Galus yang tentunya menjadi trend di masyarakat, bagi orang luar menjadi sensasi kenangan yang tak terlupakan ketika hadir di Galus sebagai tamu Pemerintah dan wisatawan.

Pajak dimanapun berfungsi sebagai tempat transaksi jual-beli. Karena itu, syaratnya mengutamakan kenyamanan pedagang dan pembeli. Tujuannya, saling menguntungkan semua pihak. Tanpa ada yang memonopoli harga dan tempat.

Standarnya, adalah bagaimana memanusiawikan para pedagang dan pembeli di area pajak. Singkatnya, para pedagang tidak kepanasan saat menjajakan jenis dagangannya dan tidak mudah layu atau rusak. Saat musim hujan, para pembeli merasa nyaman dengan tidak ada genangan air. Baik pedagang maupun pembeli selalu dalam koridor sifat humanis. Ketika harga naik, pembeli tetap tersenyum dan saat harga murah, penjual tetap sportif menjajakan dagangannya.

Sekian tahun pajak Terpadu Buntul Tajuk telah dibangun. Saat direlokasi para pedagang ke tempat baru. Tidak mudah cepat beradaptasi karena tempo sembilan hari dari tanggal 25 Januari – 3 Februari 2018, beroperasi pajak ini membuat para pedagang tidak bisa cepat mengambil keuntungan. Sebaliknya, kehilangan pendapatan dari biasanya. Efeknya, rasa percaya pedagang terhadap pemerintah menjadi hilang seketika.

Inilah cermin dari tata kelola pemerintah yang sudah dituntut kerja keras, kerja cerdas. Artinya, tata kelola suatu aksi di lapangan tidak lagi dikerjakan secara tugas, pokok dan fungsinya. Namun, cara-cara inisiatif yang terkoordinir lintas sektor dan terukur hasil dampaknya secara positif.

Prinsipnya, kesetaraan hak dan tanggungjawab menjadi utama dari berbagai elemen yang ikut andil dalam pengelolaan pajak. Fungsi pemerintah hanya fasilitator antara pembeli dan pedadang.

Ciri-cirinya; adanya pembangunan lokasi pasar, air bersih, listrik, jalan tempat bongkar-muat komoditi sayuran, ikan, kelontong dan hasil pertanian dan perkebunan serta tempat berdagang bersih dari sampah. Air bersih dan tempat Ibadah yang nyaman. Hal ini menjadi saksi bisu dari waktu ke waktu di pajak ini. Segalanya, tersedia dan berjalan sebagaimana mestinya dengan tempat telah dikondisikan.

Pajak terpadu adalah identitas suatu daerah yang merupakan tempat berkompetisi antara petani dan pedagang. Keduanya, bergelut dan berpacu antara harga beli dan jual. Disinilah tempat indikator serapan tenaga kerja dan indek pembangunan manusia yang terukur. Dari segi inflasi dan deflasi rupiah dalam transaksi harga komoditi.

Dari uraian di atas, menunjukkan bahwa pentingnya pajak sebagai sentral pemasaran komoditi. Tanpa adanya pajak maka suatu daerah kehilangan momentum sebagai penyumbang devisa (kbbi.n.alat pembayaran luar negeri yang dapat ditukarkan dengan uang luar negeri) Negara dalam hal komoditi pangan.

Kesimpulannya, mengembalikan kepercayaan para pedagang agar tak kehilangan penghasilan dari langganannya merupakan sama halnya mengembalikan kepercayaan terhadap pemerintah sebagai pelayan dan pengayom masyarakat secara menyeluruh.

Caranya, lengkapi segala kebutuhan para pedagang fasilitas sarana dan prasarana. Demikian juga, para pembelinya, ciptakan suasana nyaman dan tertib tata letak antara rute-rute jalan dalam pajak. Sehingga setiap saat antara pedagang dan pembeli bagaikan rantai yang saling mengikat—pajak maju karena mekanisme jual-beli apa saja dapat tersedia dengan pesona ramah tamah nan ceria.

Bunga rampai uraian tulisan ini memperlihatkan bahwa peresmian pajak terpadu yang telah diikrarkan pada publik warga masyarakat Galus. Jangan sampai kehilangan roh pembangunan Gayo Lues dengan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

Masalah teknis, tuntaskan dengan cara-cara teknis dan terpadu dalam bingkai sifat humanis…sekali melangkah pantang mundur!

Ditulis Oleh : Helmi Mahadi. M.A

Alumni Fisipol UGM

ASN Staf Fungsional Umum Setdakab Galus

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kepala Bidang Ekonomi Kreatif, Sri Dewi Wahyuni SP

Lagu Mars Gayo Lues Harus Mencerminkan Unsur Agama dan Budaya

BLANGKEJEREN [Insetgalus] – Sembilan kriteria dari lima ketentuan umum menjadi syarat mutlak mengikuti lomba karya ...