Kegigihan Rakyat Tampeng Menentang Belanda (Bag. IV)

NAMUN, para pejuang Gayo dan Alas yang bertahan masih melakukan perlawanan dengan gagah berani. Kemudian, Belanda menghancurkan Benteng Tampeng dengan dinamit dan perlawanan rakyat Gayo pun dipatahkan. Selanjutnya, Van Daalen pun membunuh semua penghuni benteng yang masih hidup, baik laki-laki, perempuan, anak-anak dan lanjut usia yang tidak mampu meloloskan diri.

Menurut catatan Kempees yang merupakan wartawan Belanda yang mengikuti Van Daalen dalam bukunya, saat perang Tampeng, pihak Gayo yang menjadi korban 176 orang tewas, diantaranya, 125 pria, 51 wanita dan anak-anak. Bahkan luka 7 orang wanita dan anak-anak. Dan tersisa hidup hanya 4 orang wanita dan anak-anak. Sementara itu korban pihak Belanda 39 orang, antaranya 1 orang tewas dan 38 luka-luka. Bahkan, dalam pertempuran tersebut, sebanyak 6.800 peluru yang ditembakkan dan 114 senjata rakyat dari bermacam-macam jenis rampasan oleh Belanda kemudian dihancurkan.

Maka dengan jatuhnya benteng Tampeng yang merupakan pertahanan terakhir dari rakyat Gayo Lues, membuat peperangan terbuka atau perang frontal rakyat Gayo Lues melawan pasukan Belanda berakhir. Dengan praktis seluruh tanah Gayo, baik Gayo Lut Tawar, Gayo Linge dan Gayo Lues, berada dibawah kekuasaan Pemerintah Kolonialis imperialis Belanda. Tetapi, walau peperangan secara terbuka telah berakhir, namun peperangan beralih menjadi perang gerilya, atau dalam istilah Gayo masa itu “perang muslimin”. Sebab, sebagian pasukan yang bisa meloloskan diri telah mengundurkan diri ke daerah Alas dan bertekad akan melanjutkan pertempuran melawan Belanda di sana. Serta sebagian lagi dalam kelompok kecil, mengundurkan diri ke hutan-hutan sekitar Tampeng dibawah pimpinan Pang-pang yang tetap melanjutkan perlawanan secara gerilya.

Dengan demikian, jika menelisik dari tulisan diatas yang mengambil sumber dari HED GANJOLAND EN ZIJNE BEWONNERS (Gayo Lues dan Penduduknya) penerbit : LANDSDRUKKERIJ BATAVIA 1903 dan Buku perang Gayo Alas melawan kolonial Belanda oleh M. Hasan Gayo PN. Balai Pustaka, maka terbantahkan cerita yang menyatakan “ Benteng Tampeng bisa dimasuki Belanda karena uang logam yang disebarkan oleh Belanda ke Benteng Tampeng (Cangduri), sehingga penduduk Tampeng berebut membabat bambu untuk mendapatkan uang logam tersebut, sehingga Belanda masuk dan menaklukkan Kampung Tampeng ”

Mudah – mudahan dengan tulisan ini, cerita fitnah yang dikembangkan oleh manusia – manusia ficik yang tidak bertanggung jawab alias orang – orang yang ingin mengaburkan fakta sejarah sesungguhnya perjuangan masyarakat Tampeng, pejuang Gayo dan Alas di Kampung Tampeng pada 17 Mei 1904, bisa terbantahkan dan menjadi renungan bagi kita semua.

Semoga amal ibadah para pahlawan bangsa, terutama pahlawan yang ikut berperang melawan Belanda di Kampung Tampeng, diterima oleh Allah SWT.

SELESAI

Liputan     :  Dosaino Ariga
Editor        :

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kegigihan Rakyat Tampeng Menentang Belanda (Bag III )

APALAGI, Benteng ini telah dipersiapkan dengan pagar mati dan pagar hidup yang berlapis-lapis dan sukar ...