Kegigihan Rakyat Tampeng Menentang Belanda (Bag II)

Akan tetapi, dari pengalaman yang didapat pada pertempuran – pertempuran yang telah dilakukan pasukan Belanda di benteng – benteng sebelumnya serta datangnya bala bantuan baru dari Kutaraja dan Kuala Simpang berkekuatan 2 brigade dibawah komando Braam Morris yang langsung bergabung dengan pasukan induk marsose, membuat  penyerbuan ke Benteng Tampeng yang dianggap tidak begitu sulit ditaklukkan oleh pasukan Belanda.

Selanjutnya, setelah semua persiapan menyerang Kampung Tampeng matang, maka dikeluarkanlah ultimatum pada rakyat Tampeng untuk menyerah pada pasukan Belanda. Dengan memberi waktu 7 hari untuk berfikir, dalam artian menyerah atau diserang. Tetapi, rakyat dan para pejuang Gayo yang mempertahankan benteng Tampeng tidak menghiraukan dan tak mengindahkan ultimatum tersebut, karena  mereka bertekad untuk terus bertempur melawan kaum penjajah.

Berhubung sikap keras yang tidak mau menyerah itu, akhirnya pada tanggal 17 Mei 1904, Van Daalen mengeluarkan perintah untuk menyerang benteng Tampeng. Penyerbuan ke Kampung Tampeng mengerahkan 10 brigade pasukan marsose ditambah pasukan infantri yang berasal dari bala bantuan Kutaraja dan Kuala Simpang. Dengan rincian, Kapten Scheepens yang dibantu Letnan Winter memimpin 3 brigade, Letnan Watrin dibantu oleh Letnan Van Braam Morris memimpin 3 brigade serta Letnan Chirstoffel yang memimpin 3 brigade bertugas sebagai pembantu yang menempati bagian selatan bersama Kolonel Van Daalen. Bahkan ditambah pula dengan 4 seksi dibawah komando Kapten De Graaf dan pasukan lainnya, lengkap dengan dokter, ambulance serta 250 orang hukuman.

Kemudian pasukan penggempur marsose diperintahkan bergerak maju mendekati benteng Tampeng dengan cara diam-diam tanpa melepaskan tembakan, dengan harapan bisa memasuki benteng dengan mudah. Sebab, Belanda mengira benteng ini dikosongkan oleh pejuang Gayo pada malam hari. Akan tetapi, perkiraan Belanda keliru, karena setelah mendekati dinding benteng, tiba-tiba mereka dihujani tembakan-tembakan dan semburan api yang hebat, disusul dengan semburan air cabai dan hujan batu yang tak putus-putusnya dari dalam benteng. Semburan api, semprotan air cabai dan pelemparan batu ini, ternyata lebih hebat dari yang pernah dialami oleh pasukan marsose dibenteng-benteng sebelumnya, sehingga perlawanan rakyat yang gigih ini menimbulkan kesulitan yang berat bagi pasukan penggempur marsose. Ditambah pula dengan banyaknya ranjau-ranjau yang dipasang disekeliling benteng….Bersambung…3

Liputan     :  Dosaino Ariga
Editor        :

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kegigihan Rakyat Tampeng Menentang Belanda (Bag. IV)

NAMUN, para pejuang Gayo dan Alas yang bertahan masih melakukan perlawanan dengan gagah berani. Kemudian, ...