Gayo Lues Bangkit

“Aku berpikir maka aku ada…..”
(SOCRATES)

Perdebatan teori telah usai….karena perdebatan teori hanya menjebak kita dalam kerangkeng Ayam yang berakhir pada kesimpulan mana duluan Telur atau Ayam?….kasak-kusuk mempertahankan pendapat hanya memunculkan perdebatan dan perselisihan yang tak pernah usai dan larut dalam kepentingan yang tidak bertepi.

Konotasi di atas, memperlihatkan bahwa implementasi teori adalah praktek. Praktek dimulai dari tindakan diri pribadi. Filosofisnya adalah kenyakinan dalam berpikir sederhana dan bertindak sederhana. Yang mencerminkan atau terlihat disini adalah mampu menahan diri dalam kondisi apapun agar tidak terjebak dalam perbuatan yang tidak baik.

Jamak diketahui atau disadari bahwa “kalau tak ingin diterjang gelombang, jangan berdiri di tepi laut”. Artinya, kalau tak ingin mendapat celaka, jangan melakukan hal-hal yang tak berguna atau sia-sia.

Inilah tantangan bagi kita hidup dalam bermasyarakat; lintas bahasa, suku, etnis maupun perbedaan agama. Keberagaman ini merupakan wujud dari cara kita berpikir sederhana, sebaliknya tidak berpikir sempit dan bertindak liar serta mampu untuk menguraikan totalitas saling-menghargai dan saling-bekerjasama.

Ukuran standarnya adalah dalam etika karakter sebagai dasar keberhasilan, seperti integritas, kerendahan hati, keberanian, keadilan, kesabaran, kerajinan, kesederhanaan, dan kesopanan agar tampak jelas konsolidasi saling intropeksi bahwa kita berada dalam lingkaran perjuangan tetap semangat menata dan memaksimalkan untuk mewujudkan cita-cita yang harmoni dengan keselarasan pekerjaan, baik institusi pemerintahan, non-government organisation, lembaga pers maupun disektor perkebunan, pertanian, perikanan dan peternakan.

Adapun ulasan di atas, untuk mewujudkan Gayo Lues Bangkit dari lambatnya laju pertumbuhan ekonomi dan pembangunan peradaban manusia yang berkualitas. Ada beberapa standar fundamental yang harus dituntaskan. Untuk lebih detailnya, berikut di bawah ini sebagai sekilas dari realitas yang sedang dihadapi;

Pertama, Menang Serlo.  Menang serlo yang dimaksud disini adalah sikap menerabas yang asal menguntungkan diri pribadi dan kelompok. Ketika ada kesempatan baik berupa barang bantuan alat kerja; seperti pupuk, bibit padi, jagung, mulsa plastik, alat semprot, ketel, mesin babat rumput dan sebagainya.

Kemudian saat yang bersangkutan menerimanya, selanjutnya dijual kepada orang lain. Guna mendapat uang sejumlah tertentu. Lain waktu, saat diperlukan alat kerja tersebut maka yang bersangkutan lebih baik meminjam kepada kerabatnya. Dampaknya, alat-alat kerja; pupuk, bibit bahkan bubuk kopi—hilang dicuri. Inilah kisah petani. Ada gentanyangan hantu di kebun. Begitu juga, buah Cabe Merah—saat harga mahal, harus dijaga. Bagaimana hal ini terjadi????

Ciri-ciri menang serlo ini, tidak hanya terjadi dalam bentuk simultan bantuan alat kerja tani. Demikian pula halnya, bantuan bibit kopi. Saat dibuka atau disobek polibagnya ternyata, akar bibitnya tidak tampak mengembang alias hanya akar tunggal. Singkatnya, bibit kopi tersebut baru pulih dipindah ke polibag. Demikian pula terhadap kelompok tani tembakau; bantuan dana serta alat kerja pengeringan tembakau. Seharusnya, Kota Kabupaten ini telah menjadi image sebagai penghasil tembakau terbaik di Aceh.

Banyak kisah pilu, memahami sikap menang serlo ini. Senang di awal susah diakhir bagi pelakunya. Sisi lainnya, adalah banyak orang lain yang kena dampaknya menerima bantuan bibit kopi. Sehingga mengurangi tingkat optimis keberhasilannya—bukan lokasinya yang tidak sesuai tetapi jenis bibit yang ada tidak diseleksi atau tanpa memenuhi standar bibit kopi yang berkualitas.

Tindakan menang serlo ini, telah masif berjalan di berbagai sektor. Yang bersumber dari etika kepribadian lebih dangkal. Tujuannya untuk melancarkan proses interaksi satu individu dan lainnya. Jadi, etika karakter menang serlo ini bersumber dari nilai kebaikan—untuk tidak menyebutnya manipulatif, munafik, hanya dibibir dan cara-cara mempengaruhi orang lain untuk menipu.

Uraian di atas, untuk menyikapi agar tercapainya cita-cita masyarakat untuk bangkit lebih Islami, Sejahtra dan Mandiri. Ada pentingnya, menimbang-nimbang kalimat ini;  “Sholatlah saudaraku seolah kamu akan meninggal besok dan, bekerjalah segiat mungkin saudaraku seolah kamu akan hidup seribu tahun lagi……..”

Kedua Leadership dan manajemen.  Choose yourself to be one. Jadilah dirimu pemimpin. Adagium ini menunjukkan bahwa menguasai diri kita adalah identitas pribadi. Karena itu, bila kita tak mampu mengarahkan tujuan kita maka yang terjadi adalah seseorang tersebut krisis identitas. Hal ini umum terjadi, ketika berada dalam suatu kompetisi untuk mengejar kemenangan maka segala cara menjadi ajang strategi manajemen.

Manajemen adalah bagian penting untuk suatu perencanaan, agar tata laksana suatu tujuan yang lebih baik dapat tercapai. Sehingga, baik di awal sampai proses sedang berjalan sampai tujuan tidak happy ending—berakhir dengan tidak bahagia.

Standar fundamental inilah agar menjadi ikatan emosional setiap individu dalam interaksi sosial dari berbagai aspek kehidupan. Baik leadership maupun manajemen yang handal menjadi karakter untuk bangkit dari ketertinggalan.

Ketiga WE HAVE A DREAM. Kita punya mimpi. Optimistis dan konsistensi adalah satu-satunya cara untuk mewujudkan Kota Kabupaten ini menjadi berwibawa diantara Kabupaten di Aceh. Caranya, mengejar ketertinggalan dari berbagai aspek pembangunan, baik kualitas sumber daya manusianya maupun sumber daya alamnya.

Eksploitasi sumber daya manusia untuk meningkatkan komitmen yang terikat dan terintegras dengan masyarakat adalah cita-cita untuk meningkat kualitas kemanusiaan yang beradab, adil nan makmur.
Sebab itu, sejak dini sudah selayaknya kita punya Mimpi agar mewujudkan menjadi kenyataan bahwa Kota Kabupaten ini akan menjadi leading sektor ataupun sentrum Kota Percepatan dan Pembangunan Bagian Tengah Kawasan Aceh (Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Tengah dan Bener Meriah). Prinsipnya, hampir-hampir sama seperti terbentuknya provinsi.

Ukuran keberhasilannya, adalah tugas terbesar generasi hari ini ikut serta dalam menciptakan kondisi sosial yang bebas koruptif dan terkait karakter pribadi seperti; kebijaksanaan, keadilan, keberanian, kejujuran, kendali diri, kedermawaan, dan kebaikan supaya tujuan mulia ini berbasiskan pada kualitas karakter pribadi seseorang.

Pada akhirnya, rentang kendali koordinasi dan konsolidasi antar daerah dapat lebih efektif dan efisien. Selain itu, tidak terimbas contestious and conflict of interest-perseteruan, perselisihan dan kepentingan politik tertentu. Sebab itu, tantangan kita bersama untuk membangkitkan Gayo Lues dari segala aspek. Insya Allah…..

Penulis :  Helmi MAHADI, S.I.P., M.A
Alumi Political Science Departement
World Class Research University Gadjah Mada
Staf Fungsional Umum Setdakab Galus

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Desa Tingkem Desa Perjuangan

“Kami adalah pelayan rakyat bagi semua rakyat”.  Demikian diucapkan Bupati saat menyampaikan kata sambutan ucapan ...