Berpacu Membangun Pertanian

Suara traktor menderu-deru di dusun Blangtenggulun, Desa Penggalangan, Kecamatan Blangkejeren, Gayo Lues. Hampir tiga bulan alat berat itu meratakan semak-semak dan kebun terlantar untuk membersihkan kebun warga sekitar.

Aktivitas itu, hampir merata diseluruh  pelataran Gayo Lues kebun milik warga yang sebelumnya mati suri, kini geliat kembali, berkah adanya program gratis lahan yang telah dilakukan Pemkab Gayo Lues. sebuah optimisme selalu dibangun saat mentari menyingsing dari ufuk timur.

Demikian pula  terjadi di Gayo Lues. Opitimisme itu sudah dipancangkan, jauh lebih dari pada daerah lain di Indonesia. Letaknya, yang berada paling tengah Provinsi Aceh membuat roda kehidupan berputar lebih dulu. “Tembakau, Kopi dan Nilam, menjadikan Gayo Lues dikenal di berbagai manca Negara, “ kata H Ibnu Hasim S Sos, MM, bupati Gayo Lues.

Tak aneh, jika senin pekan lalu, putra daerah Gayo Lues ini sudah berkemas sejak dini hari. Pria kelahiran Padang Terangun, Kecamatan Terangun, 50 tahun lalu ini memimpin langsung pasukannya disebuah areal perkebunan miliknya desa Terangun. Disitu pasukannya yang terdiri dari Aparatur Sipil Negara Pemkab Gayo Lues diminta ikut bercocok tanam menggaraf lahan ratusan hektar menanam benih jagung.

Bupati, sedang getol-getolnya memberdayakan setiap potensi pertanian di daerahnya. Tak ada lahan kosong yang dibiarkan terbengkalai. Geliat itu dimulai sejak tahun 2008, dengan mengusung program Gemasih, gerakan ini telah melibatkan seluruh elemen masyarakat dan para pejabat daerah, mulai dari tingkat Kapolres, Dandim, Kepala Dinas, Kantor serta seluruh pegawai  Negeri pada lingkungan Pemkab Gayo Lues, internal dan vertical.

Gerakan Gemasih, lebih menitik beratkan kepada kesejahteraan masyarakat petani. Seluruh lapisan masyarakat di Gayo Lues diberdayakan untuk memacu pertumbuhan ekonomi daerah, dengan membuka lahan tidur yang selama ini terbengkalai. Sehingga pada tahun 2011, Gayo Lues mampu mengeluarkan ratusan ton jagung dalam pertahun, ditambah dengan tanaman lain seperti, padi mampu meningkatkan hasil panen, rata-rata 4,5 ton per hektar, dan semakin tahun produksi jagung semakin meningkat, hingga 2014 ini.

“Dengan bertani, berkebun, atau mengusahakan hasil lainnya, “ cetus Ibnu. Ia, selalu berfikir, apa yang salah dalam  penataan ekonomi di daerah ini. Apakah tingkat pengangguran dan kemiskinan itu akibat dari sifat hidup malas, atau institusi pemerintah yang salah tidak mendorong perubahan ekonomi masyarakat yang signifikan ???.

“Tapi saya percaya, kalau masyarakat sehari saja menanam satu batang singkong, sebatang pohon pisang, berarti dalam sebulan sudah tampak jelas ada 30 batang singkong dan 30 pohon pisang, dalam setahun tinggal kalikan saja, apakah Gayo Lues tidak makmur, “ ujarnya lagi.

Nopal SP, Kepala Dinas Pertanian Gayo Lues, mengaku Program Gemasih telah berhasil membuka lahan tidur sekira 3000 hektar untuk tanaman jagung. Dan program itu, mampu menumbuhkan kembangkan animo masyarakat untuk bercocok tanam jagung dilahan tidur. Ditambah dengan songkongan pengolah lahan gratis dengan alat berat milik Pemkab Gayo Lues.

Selanjutnya, pada sisi SDM dibidang pertanian tidak hanya menyentuh para petani saja, tetapi ditujukan kepada aparat pemerintah. Petugas dan aparat pemerintah  dibina menjadi tenaga-tenaga penyuluh. Peningkatan SDM para aparat pertanian memang menjadi tugas daerah setelah sebelumnya menjadi tanggung jawab pusat.

Sangat penting mengubah perilaku penyuluh dengan pengetahuan dan keterampilan karena tugas mereka juga mengubah sikap, mengubah pola para petani sehingga termotivasi, “ ujar Ir Amarullah Leman, Kepala Badan Penyuluh Gayo Lues.

Menggaraf Wisata
Meski pertanian menjadi sector yang diprioritaskan, Pemkab Gayo Lues, tak melupakan sejumlah sector unggulan lain. Di antaranya sector perikanan, perkebunan, peternakan dan Pariwisata. Di bidang Pariwisata misalnya, Gayo Lues terbilang masih belum tergaraf secara maksimal. Padahal potensi yang dimiliki sangat besar.

Sejumlah obyek wisata alam sangat mungkin untuk dikembangkan. Di antaranya, kawasan gunung Leuser, wisata air terjun, kolam marpunge. Dan, yang lebih penting lagi, wisata budaya, seperti Tari Saman, yang mana kesenian ini sudah dinobatkan sebagai warisan budaya dunia tak benda.

Tentu, kata Ibnu Hasim Bupati Gayo Lues, akan memikirkan  bagaimana merencanakan  sebuah situs saman untuk memudahkan wisatawan asing dan local mudah mendapatkan, pertunjukan tari saman, serta sejarah singkatnya.

Ditambah dengan, penjelasan lain seperti asal-usul orang Gayo, jadi nantinya, kata Bupati, tempat yang dimaksud mampu menampung dan memberikan penjelasan dari semua seni budaya Gayo Lues. Pada akhirnya, daya tarik itu mampu memikat minat pengunjung, sekaligus akan membuka semua lini, mulai dari terciptanya lapangan kerja, hingga memberikan pemasukan untuk daerah.

Di bidang wisata budaya, sudah kedua kalinya, Gayo Lues telah menorehkan catatan sejarah, pertama tanggal 24 November  2011 pengukuhan tari saman, kedua 25 september 2014, penyerahan sertifikat Tari Saman dari United Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) oleh Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia bidang Kebudayaan Ir. Wiendu Nuryanti, M.Arch.,Ph.D kepada Gubernur Aceh dr. Zaini Abdullah yang didampingi Bupati Gayo Lues H. Ibnu Hasim, S.Sos.,M.M. di Anjungan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.

Penyerahan itu, memiliki makna yang sangat dalam, namun kata Bupati ada beberapa hal yang sangat penting disana, pertama perlindungan, pemanfaatan dan pengembangan tari saman. Namun sebenarnya, sambung Bupati, bukan tari saman saja seni yang ada di Gayo Lues, melainkan  beberapa, seperti, didong, pongot sebuku, bines, melengkan, syair, kededen, seni ukir dan pahat, seni musik, canang, kecapi, popo dan bangsi, seni tutur atau kekeberen yang bisa diangkat menjadi seni derama dan lain-lain.

Tak pelak, nama Ibnu Hasim, seketika melejit setelah menggagas event Tari Saman massal sebanyak 5.057 penari, dari segala penjuru daerah turut menyaksikan saman itu, sehingga rumput hijau di lapangan Stadion Seribu Bukit pada hari itu Senin 24 Nopember 2014 sejenak menjadi lautan manusia. Tentu saja moment yang bersejarah ini, tidak saja untuk Gayo Lues tapi bingkisan untuk Dunia.

Di hari yang sama, Gayo Lues kembali menjadi daya tarik yang mengukir sejarah baru, dengan uji coba bandara “ Senubung” Blangtenggulun. Gayo Lues akan terbebas dari segala keterisoliran. Karena dikatakan Ibnu Hasim, secara umum peran angkutan udara memberikan kontribusi cukup besar antara lain, di bidang transportasi, pengembangan ekonomi daerah, pertumbuhan pariwisata dan ketenagakerjaan.

Pendidikan
Pendidikan merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan kita, ini berarti bahwa setiap manusia berhak mendapat dan berharap untuk selalu berkembang dalam pendidikan. Pendidikan secara umum mempunyai arti suatu proses kehidupan dalam mengembangkan diri tiap individu untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupan. Sehingga menjadi seorang yang terdidik itu sangat penting.

Begitu di utarakan, Bupati Gayo Lues, H Ibnu Hasim, senin pekan lalu, ketika berbincang dengan Media Insetgalus.com. Dari sector pendidikan, Gayo Lues sudah termasuk sukses, apalagi Universitas kebanggaan masyarakat Aceh, sudah bisa sepenuhnya dinikmati oleh masyarakat Gayo Lues, karena Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, sudah membuka program studi diluar domisili.

Guna mengatasi rapuhnya proses pendidikan di Kabupaten  Gayo Lues, Ibnu Hasim tak segan mengadopsi Universitas papan atas dari Provinsi Aceh, lobi-lobi kecil dan perjuangan selama kurun empat tahun untuk membangun Universitas Syiah Kuala di Blangnangka Kecamatan Blangjerango Gayo Lues, kini telah berhasil. Kampus kebanggaan masyarakat itu, kini mampu menampung sebanyak 2.000 mahasiswa.

Dan, Direktur Jenderal (Dirjen) Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti), Prof. Djoko Santoso pun telah meresmikan September bulan kemarin. Universitas ini, telah membuka empat program studi, yakni Ekonomi Manajemen, Pendidikan Biologi, Agroteknologi dan Kehutanan, tidak tertutup kemungkinan akan membuka prodi lain.

Dengan hadirnya Kampus kesayangan itu, pembangunan pendidikan kian melejit dimasa kepemimpinan Bupati Gayo Lues H Ibnu Hasim. Selama tujuh tahun masa kepemimpinannya, Ibnu telah memiliki perguruan tinggi yang berkualitas dengan prasarana perkuliahan terbaik. Dengan diresmikannya kampus itu, kepercayaan pemerintah kepada Gayo Lues, merupakan sebuah kebanggaan.

Soal biaya peningkatan dan pengembangan SDM, pemkab tak mau tanggung-tanggung. Setiap tahun alokasi dana APBK untuk peningkatan sumber daya manusia selalu ditambah. Terakhir,  pemkab memberikan bantuan langsung kepada mahasiswa akhir semester studi untuk biaya skripsi, selanjutnya disusul untuk biaya pasca sarjana.

Dan tak kalah pentingnya, Pemkab juga telah menyekolahkan belasan dokter spesialis, ditambah dengan pengangkatan sejumlah dokter terpencil menjadi PNS tanpa testing. Pak Bupati juga tak henti menggugah semangat warganya agar terus berusaha bangkit memperbaiki ekonominya. Dalam banyak kesempatan, bupati yang terpilih kedua kalinya ini selalu mengingatkan bahwa masyarakat Gayo Lues sebenarnya tidak perlu dilanda kemiskinan sejauh mereka bisa dan mau berusaha memanfaatkan tiap jengkal daerah mereka yang subur makmur itu.

Masih terkait pendidikan, Bupati Gayo Lues juga menyatakan protes terhadap kurikulum edisi revisi Bahasa Indonesia yang memuat Tari saman bergambar perempuan. Tentu ini di nilai sebagai pembodohan terhadap public. Namun, bupati telah memerintahkan kepada Disdik Gayo Lues menarik buku tersebut dari peredaran, serta telah melayangkan surat ke mendikbud agar melakukan revisi gambar dan menarik seluruh nasional.

Membenahi Infrastruktur
Selain masalah sumber daya manusia tadi, kendala yang selama ini menghadang Gayo Lues adalah persoalan  infrastruktur, terutama menyangkut transportasi. Ibnu Hasim, menyadari hal ini menjadi bagian penting yang harus terus diperhatikan dan dibangun.

Sebab, infrastruktur yang baik akan sangat membantu percepatan akomodasi dan transportasi masyarakat, sehingga arus barang dan jasa akan berjalan dengan baik pula. Ibnu  pun menyadari sebagai hal yang tak mudah. Berangkat dari itu, pemkab telah  membuka akses jalan setiap desa hingga ke kebun masyarakat.

Hingga kini, Ibnu terus membenahi dan  memperhatikan  pembangunan berbagai infrastruktur baik itu jalan,  jembatan maupun pembangunan fisik lainnya, termasuk jaringan komunikasi seluler seperti jaringan kabel optic, walaupun masih tercatat Kecamatan Pining belum dapat mengakses komunikasi, namun itu tak berarti Pemkab berpangku tangan.

Ibnu berprinsip, pembangunan infrastruktur syarat mutlak suatu daerah kalau daerah itu memang ingin maju. Dengan dibangunnya infrastruktur, akses-akses ekonomi terbuka. Begitu juga dengan potensi lainnya seperti pendidikan, pertanian, perikanan, bahkan politik. Selain itu, partisipasi masyarakat juga akan muncul manakala pembangunan infrastruktur berjalan baik.

Disebutkannya, fungsi jalan memang sangat vital. Bibit, pupuk dan hasil tani lainnya sekarang berada di jalan karena diangkut dengan kendaraan, tidak seperti zaman dulu yang dipikul oleh petani. Membangun infrastruktur seperti jalan, bukan perkara mudah. Keterbatasan anggaran menjadi salah satu faktornya. Tetapi hal itu bukan satu-satunya alasan. Peran pemerintah dalam kebijakannya juga sangat menentukan. Tanpa adanya goodwill dari pemerintah, tidak akan terlaksana.

Beruntung, untuk Gayo Lues di bawah kepemimpinan Bupati H Ibnu Hasim ini pembangunan infrastruktur menjadi prioritas. Ia komitmen dengan keputusannya untuk memperbaiki infrastruktur, kususnya jalan kabupaten, sehingga jalan kabupaten bukan sekedar penghubung, tetapi juga dapat membuka akses-akses lainnya, yang dirasakan manfaatnya.

Orang nomor satu Gayo Lues itu sadar betul. Jalan merupakan sarana yang sangat vital manfaat dan keberadaannya, sangat dirasakan langsung oleh masyarakat. Kerenanya peningkatan kualitas jalan mendapat perhatian serius dari Pemkab Gayo Lues.

Dikatakan, pembangunan tahun ini harus lebih baik daripada tahun sebelumnya. Terkait dengan kerusakan jalan. Pemkab Gayo Lues sudah meminta kepada instansi terkait untuk memperbaiki jalan yang rusak, bahkan meminta kepada instansi itu, tanpa menyebutkan instansinya untuk meningkatkan kualitas jalan dari yang tadinya pengerasan menjadi aspal.

Dijelaskan, untuk jalan yang diaspal, Pemkab mempunyai skala prioritas, yakni kondisi jalan rusak berat, kondisi tanah yang labil, jalan  banyak dilalui oleh kendaraan, serta jalan menghubungkan pusat-pusat produksi tani. ”Nanti secara bertahap kita aspal seluruhnya,” jelas Ibnu.

Dikatakan, diakhir masa tugasnya nanti, harapannya, semua jalan kabupaten dalam kondisi baik, tidak ada bolong-bolong, dan bisa diaspal seluruhnya, sehingga tidak ada lagi jalan yang rusak.

Saya prihatin melihat jalan yang rusak, apalagi sampai kerusakannya sangat parah. Saya tahu itu harus segera ditangani, tetapi semuanya harus melewati proses terlebih dahulu sesuai dengan aturan yang berlaku,” tegas bupati.

Bupati Ibnu, meminta kepada masyarakat untuk bersabar apabila ada beberapa jalan kabupaten yang masih rusak. Pengaspalan akan dilakukan secara bertahap, sehingga pada akhirnya rampung dan seluruh jalan kabupaten di Gayo Lues dapat dilalui dengan lancar dan nyaman. Selamat menyongsong 2015. Semoga Kabupaten Gayo Lues dan apa yang dicita-citakan pada tahun selanjutnya berhasil mendapat berkah dari Allah SWT.***

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

100 Hari Kerja Bupati dan Wakil Bupati Suatu Perjuangan Kedaulatan Rakyat

Menjaga amanat rakyat adalah suatu perjuangan kedaulatan rakyat yang dilakukan oleh Bupati dan Wakil Bupati ...