100 Hari Kerja Bupati dan Wakil Bupati Suatu Perjuangan Kedaulatan Rakyat

Menjaga amanat rakyat adalah suatu perjuangan kedaulatan rakyat yang dilakukan oleh Bupati dan Wakil Bupati terpilih. Manifestasi politik merupakan kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat. Inilah suatu perjuangan yang diwujudkan dalam suatu usaha yang dilakukan secara konsisten selama lima tahun ke depan.

Adapun riak-riak gelombang kecil dan besar yang dijalankan saat kapal sedang berlayar untuk sampai tujuan bertepi merupakan suatu proses dalam dinamika politik. Secara teoritis, sintesa dan anti-tesa belum tentu sama. Artinya, di atas kertas program kerja belum tentu sama hasilnya dilapangan. Bisa jadi, hasilnya melampaui dari target. Sebaliknya, bisa jadi statis-berjalan di tempat.

Berkaitan itu, pilihan adalah perbedaan dari warna politik yang memiliki konsekuensi politik (baca; kepentingan). Subtansi demokrasi politik adalah mengharuskan konstituen-pemilik suara untuk memilih pemimpin yang sesuai pada aspirasi masyarakat.

Strategi utama yang dilakukan ‘rekonsiliasi politik’ adalah jalan tengah untuk mengakomodir dari perbedaan pilihan. Karena itu, proporsi berat dan ringan sama dijinjing bila suatu beban kerja diamanatkan maka semua program kerja yang tergambar dalam misi dan visi Bupati dan Wakil Bupati harus sesuai intruksi dapat tercapai. Inilah yang dikmaksud arti penting perjuangan kedaulatan rakyat. Sehingga, sampailah tujuannya, sesuai yang dicita-citakan yakni masyarakat Islami, Sejahtra dan Mandiri.

Singkatnya, mengejar dan mensetarakan pembangunan kualitas peradaban manusia dari berbagai aspek ekonomi dan pengetahuan dalamDaerah Kabupaten Gayo Lues khususnya dan Nasional umumnya.

Arti penting 100 hari kerja adalah menegaskan fungsi pemerintah untuk memfasilitasi aspirasi masyarakat yang dimulai dari menata; tata kelola pemerintah yang baik-good clean goverment bukanlah kerja satu hari tuntas. Karena itu, dalam wujud kerja program yang diakumulasikan dalam misi dan visi. Sesungguhnya, arena kontestasi pilkada adalah arena perjuangan ideologi (baca: prinsip misi dan visi).

Inilah beberapa argumentasi disampaikan saat pidato 100 hari kerja, pada hari Jumat, 12 Januari 2018 di Mesjid As Shalihin. Arti penting lainnya, dalam seratus hari kerja ini adalah apa yang telah dicapai yakni merangkul dan menghimpun aspirasi masyarakat yang tersebar di tiap Kecamatan dalam rangka kunjungan kerja Bupati dan Wakil Bupati sebulan lalu.

Dari tiap kunker tersebut yang menjadi prioritas disampaikan pada masyarakat dan publik (media massa cetak dan media portal on line) adalah “rekonsiliasi politik”. Definisinya adalah perdamaian dalam konteks pilkada lalu. Esensinya merupakan suatu pertarungan kekuasaan harus mempedomani dari segala regulasi politik baik secara lokal (budaya) maupun nasional-asas demokrasi (jujur, adil dan terbuka).

Sebagaimana yang disampaikan oleh Wakil Bupati adalah tidak ada lagi masyarakat toa, uken paloh enye bur. Maknanya, masyarakat jangan lagi terkotak-kotak dari berbagai lapisan masyarakat yang basis peta politik blok barat, timur, selatan dan utara. Secara ringkas, ditambahkannya bahwa mengemban amanah rakyat bukanlah perkara mudah tanpa didukung oleh berbagai lapisan masyarakat.

Hal ini merupakan konsekuensi asas demokrasi politik dalam konteks pilkada mengharuskan untuk mencari pemimpin yang sesuai amanat pilihan rakyat. Apapun hasilnya, inilah kualitas dari pendidikan politik masyarakat.

Secara prinsip, konsep pemimpin adalah bagaikan ‘gunung es salju’. Artinya, makin lama es salju tersebut makin menetes dan mengalir sampai ke bawah. Demikian pula halnya, bagaimana karakter pucuk pemimpinnya, begitulah masyarakatnya juga.

Penutup acara 100 hari kerja yang disampaikan Bupati adalah secara umum telah dapat rekapitulasi persoalan dalam bingkai gambaran-gambaran mentalitas aparatur birokrasi pemerintah, peluang dan tantangan pemberdayaan dalam aspek ekonomi serta mempercepat pembangunan yang ada lingkup pemerintah daerah Kabupaten Gayo Lues.

Secara khusus, Bupati menyampaikan saran dan kriktik konstruktif dalam mengemban amanah masyarakat. Pendopo Bupati dan Wakil Bupati secara konsisten terbuka pintu bagi siapa saja untuk menyampaikannya demi mewujudkan Gayo Lues Islami, Sejahtera dan Mandiri. Bravo Gayo Lues….!!!!

HELMI MAHADI, S.I.P, M.A

Alumi Political Science Department

World Class Research University Gadjah Mada

Staf Khusus Bupati dan Wakil Bupati

ASN Setdakab Gayo Lues

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kepala Bidang Ekonomi Kreatif, Sri Dewi Wahyuni SP

Lagu Mars Gayo Lues Harus Mencerminkan Unsur Agama dan Budaya

BLANGKEJEREN [Insetgalus] – Sembilan kriteria dari lima ketentuan umum menjadi syarat mutlak mengikuti lomba karya ...